SAUDARAIKU...APA YAG MENGHALANGIMU UNTUK BERHIJAB?
deg....itulah
pertama kali yang terasa didada saya saat membaca sebaris kalimat
diatas, yang merupakan judul dari sebuah buku. jantung saya berdesir,
dan saya bisa merasakan aliran darah saya sendiri bergerak turun naik di
katup jantung saya (hahah lebay sekali)
reaksi itu cuma
terjadi beberapa detik, lalu senyum mengembang secara tiba2 tanpa saya
capek2 memerintah otak untuk melakukan aktifitas SENYUM, dan mengalirlah
memori itu, memori saat-saat pertama saya akhirnya memutuskan untuk
berhijab,, cerita yang mungkin bagi semua orang biasa saja, tapi bagi
saya adalah peristiwa ISTIMEWA
hampir 9 tahun berlalu dari
peristiwa itu, peristiwa dimana hati saya bergelut dengan hawa
nafsu...ya pergolakan batin saat saya menyadari bahwa saya sudah WAJIB
berhijab, tetapi saya masih mengabaikan perintah-Nya.
oh
ya sebelumnya nih saya akan sedikit membuka identitas saya..Sedikit saja
(mudah2an tidak menjadikan saya NARSIS ya :D #Looh). Saya ini berasal
dari kampung nan jauaah dimato, :D ditempat tinggal saya dulu,
kehidupannya tidak seperti di kota tmpat tinggal saya sekrang.
Duluu...di kampung saya,,, nafas2 ruhiyah yang saya dapatkan benar-benar
kosong, yah jiwa-jiwa nya tidak terisi sempurna, ilmu agama benar2
hanya sebatas tenggorokan dan sebatas sampai di otak (hanya jadi
pengetahuan), tanpa pengolahan yang matang dan dicerna bagaimana
seharusnya aplikasi dari ilmu agama itu untuk kehidupan nyata..
di
kampung saya, seperti ada penegakan hukum begini: pada sore hari anak2
wajib MENGAJI agama di pesantren, di mesjid, di surau, di mushola
(apapun istilahnya untuk menyebutkan tempat mengaji). kalau tidak mau
berangkat mengaji diancam dengan berbagai hukuman, mulai dari hukuman
pukul (tangan, pantat,dsb) sampai dikejar2 kemanapun perginya si anak,
dan dipaksa pergi mengaji. Saat Remaja aturan baru pun ditegakkan:
Remaja boleh tidak mengaji, boleh tidak ke masjid, ngaji nya cukup saja
saat SD, jika sudah SMP kewajiban nya berubah menadi BELAJAR dan
MENGERJAKAN PR.
ahh...ada2 saja yang membuat hukum seperti
itu..:( tapi sungguh ini nyata terjadi, dan saya adalah salah satu
pelaku dari penerapan hukum ini, kalau diktakan korban, saya bukan
korban karena saya begitu menyukai aturan ini :D tapii dikemudian hari
akhirnya saya menyesali perbuatan saya tersebut..
waktu
terus berlalu, kesempatan mengaji sudah semakin digeser2...tergerusoleh
aktifitas sekolah dan akifias diluar sekolah yang macam2, mulai dari les
bahasa inggris, dan les komputer (karena dikampung saya dulu baru ini
yang ngetren ;D), rasanya LES menarik aripada mengaji. tapii saya mulai
merasa ada yang hilang. rutinaitas mengaji yang saya lalui sejak masuk
SD sampai lulus SD sebenarnya sangat saya rindukan untuk diulangi di
masa remaja say lagi2 perasaan itu lenyap digerus oleh keinginan2 remaja
yang baru MELEK dunia. *alasan
dari SD juga saya sudah
dikenalkan tentang imu berhijab, tapi entah mengapa kok saat itu ada
anggapan begini: masih kecil mah gpp ga pake jilbab, pakai jilbab itu
gak wajib kok, cuma anjuran aja...pernyataan ini benar2 SESAT DAN
MENYESATKAN. Bahkan saat saya SMP tak ada satupun disekolah saya yang
berjilbab, ang lebih membua telinga sakit itu saat ada yang berceloteh:
Mau Pake Jilbab? sekolah di MTs bukan di SMP, atau sekalian aja ke
pesantren...itu lah yang saat itu menjadi penghalang saya untuk
berjilbab,, saat itu saat saya mulai paham Jilbab itu WAJIB,, tapi
lngkungan saya benar2 tidak mendukung..diantara ribuan perempuan yang
ada di sekolah saya duu dari guru dan murid, hanya 1 orang guru yang
berjilbab..namanya Bu Mar,, kebetuln Bu Mar ini masih saudara jauh dari
keluarga saya, beliau lulusan dari Universitas islam di kotaku dulu.
dari Bu Mar lah saya sering mendapatkan pencerahan2 tentang ilmu agama
yang bisa diterapkan dalam kehidupan remaja saya...dan keinginan
berhijab pun semakin KUAT
tapi sayaang....keinginan itu
benar2 hanya sampai batas keinginan, tanpa ada bantuan dari dalam diri
dan dari luar diri saya untuk mulai mengambil LANGKAH untuk
berhijab,,dan niat saya pun tertunda.
tahun berikutnya
saat kenaikan kelas 3, saya memutuskan untuk pindah kekota ini, menurut
cerita yang beredar, kotanya sangat religius. saya gembira sekali,
akhirnya keinginan saya berhjab bisa terlaksana.. singkat cerita, saya
pindah dan masuk ke salah satu SMP negeri yang sebenernya tidak kalah
dengan SMP saya dulu, jauh dari keramaian, dan aga2 terpelosok :D tapi
saya tidak menyesal, malah saya bangga pernah sekolah disana.
apakah
saya lngsung berhijab? ternyata tidak!! saya sungguh malu..malu
semalu-malunyaa... dulu, disekolah saya yang lama, hanya 1 orang sayja
yang berjilbab, sekarang..di sekolh saya yang baru, ribua kepala
berjilbab, hanya segelintir siswi yang tidak berjilbab, termasuk
saya..:(
dulu itu alasanny datang dari ibu saya: udah, tanggung
berjilbab nya nanti aja, kalau sudah lulus SMP. tinggal beberapa bulan
lagi, lagian tanggung kalo hars beli seragam tangan panjang kalau cuma
dipakai beberapa bulan. tegas ibu saya..
sungguh hati saya
menjerit, tapi saya tidak bisa berbuat apa2.. saya malu dengan Alloh,
saya malu dengan guru ngaji saya, karena setiap ngaji, pasti sering
disindir masalah hijab, maslah kewajiban berjilbab..bukan saya tidak
mau, bukan saya tidak paham hukumnya, tapi lagi2 alasan yang tidak
mndukung,,dan bernada pengabaian perintah. apalagi saat itu saya
ditunjuk jadi salah satu tenaga pengajar di mesjid,, semakin malu lah
saya berjilbab hanya ke mesjid saja..:(sampai satu hari saya memutuskan
untuk segera mengakhiri masa TERBUKA aurat nya saya...:) setelah ujian
nasional selesai dan pendaftaran siswa baru ke SMA di buka,. setelah
melalui beberpa pekan kesibukan, di hari PERTAMA MOS saya berjilab!!
yeeeyyyy.....dan saya berjanji tidak akan pernah melepaskan hijab saya
lagi
dari perjalanan tersebut, setelah semakin saya sadar
bahwa kewajiban BERJILBAB sama halnya dengan Kewajiban SHOLAT, jika
dengan sengaja mengabaikan perintah ini, maka sama saja dengan
menyatakan diri bahwa diri ini adalah penentang Alloh :( saya
merenungkan satu hal, tentang alasan2 saya saat susahnya untuk segera
berjilbab... semmua alasan2 itu: tidak didukung oleh lingkungan, belum
punya baju panjang, akhlak saya juga masih amburadul..benar2 memang
hanya menjadi alasan pemanis bibir untuk mengatakan bahwa SAYA MALAS
BERJILBAB, NANTI SAJA..dan saya juga merenungkan bahwa keputusan
berjilbab itu bukan soal hidayah saja, tapi soal MAU melakukan
perintah,,bukan karena terilham oleh siapapun, tapi benar2 KESADARAN
bahwa diri ini adalah HAMBA ALLOH yang diperintahkan untuk menutup
AURAT..
andaikan saja dulu saya masih berkutat dengan alasan2 saya,..sungguh saya bisa pastikan mungkin hari ini saya tidak berhijab.
memang
perjalanan manusia berbeda2 dalam menemukan makna hidupnya.tidak semua
orang bisa disamakan waktu KESADARANNYA untuk TAATI PERINTAH ALLOH..
tapi
bagi saya, bedasarkan pengalaman saya sendiri..Alasan2 yang saya buat
itu lah yang menjadi penghalang saya untuk melakukan perintah-Nya.
alasan2 yang saya buat sendiri yang memberatkan saya untuk melangkah
untuk
saat ini saya semakin sadar, TERLALU banyak MERANGKAI ALASAN, semakin
sulit untuk membuka pintu2 PETUNJUK Alloh, dan semakin jauh dari pintu
Ketaatn..
berhentilah membuat ALasan..sekarang juga...agar tak ada lagi beban dihati dalam menjalankan PERINTAH-Nya...
lalu..saudariku,
alasan apa yang menghalangimu untuk berhijab? bukankah kau tahu...1
helai rambut kita yang terlihat oleh laki2 yang bukan mahram kita = 7000
tahun di neraka..:(,mari kita segerakan ihktiar itu, selagi nyawa masih
diraga, selagi kesempatan untuk TAAT masih terbuka lebar untuk kita,,
sebelum akhirnya nanti ita DIHIJABI oleh orang lain dengan KAIN KAFAN :(
Tidak ada komentar:
Posting Komentar