Ini ceritaku sore ini, sama seperti hari-hari kemarin fenomena yang
akan kuceritakan hari ini mungkin bukan kejadian luar biasa, bahkan
sepertinya sudah tidak asing lagi kita jumpai setiap sore menyapa para
manusia yang terkantuk-kantuk di dalam angkutan umum (angkot, bus, dsb)
menahan lelahnya badan setelah seharian bekerja.
Seperti
biasa, setiap saya ada agenda diluar dan harus pulang sore, alternatif
angkutan yang saya pilih adalah angkot, memang sih perjalanan menjadi
tidak efisien, karena waktu terbuang banyak dijalan, karena angkot yang
selalu berhenti entah untuk ngetem ataupun menaikkan dan menurunkan
penumpang, tapi hal ini bagi saya adalah seni nya dalam menikmati angkot ^_^
walau sebenarnya sebel juga, perjalanan saya bisa memkan waktu 2
jam hanya di angkot saja..
ahh pembukaan yang terlalu panjang, mari berbicara pada intinya :D
fenomena
yang saya singgung diatas adalah sesuai dengan judul tulisan yang saya
angkat dalam catatan ini, tentang "meminta". tau dong ya siapa yang suka
"minta2" di angkot? walaupun dengan profesi sebagai penyanyi
jalanan..:D
sore ini cerita itu terjadi lagi, saat angkot
yang saya naiki sudah sampai di bunderan cibiru, bandung timur, naiklah 2
orang anak yang gayanya nyentrik, dengan bau yang khas, satu perempuan
yang satu laki-laki. anak perempuan itu saya taksir kira2 usianya 15
tahun dan yang laki-laki juga sama lah sekitar 15 tahun.. sebelum
mengawali ritual "meminta" ehh mksudnya "bernyanyi ala kadarnya" mereka
seperti sudah punya teks "sambutan" layak nya seorang orator. dan saya
juga jadi bingung, ini mau ngamen atau mau pidato.
dan
seperti saya bilang, hal in kejadian biasa dan saking seringnya saya
menemukan anak-anak macam ini, saya jadi ikut hafal dengan kata2 intro
(sambutan) mereka:(intro; pembukaan): "ya permisi kakak, bunda, om,
tante, numpang ngamen, numpang berisiknya yaa...kami disini mau cari
makan ya, untuk sesuap nasi nya ya kakak bunda, maaf kalau menggganggu
perjalanan kakak bunda, cuma bikin berisik ya
(mulai
bernyanyi): kemanusiaan telah berkurang, korupsi semakin merajalela,
bangkit ah hai orang-orang yang peduli pada nasib bangsa yang semakin
tertindas, kejahatan merajalela.... (kurang lebih begitu syair yang
mereka nyanyikan. dengan sedikit adaptasi bahasa :D)
(bagian
penutup) ya kakak bunda kami tau diballik kerapian KERUDUNG anda masih
tersimpan JIWA SOSIAL anda untuk membagi harta anda, seribu dua ribu
tidak akan membuat anda MISKIN, hargai SUARA kami ya kakak bunda. Anda
butuh UANG kami juga butuh UANG. Anda bukan PATUNG dan kami juga bukan
PATUNG, hargailah, dengan lima ratus rupiah atau seribu dua ribunya, ya
kakak bunda, terimakasih ya kakak bunda, kami disini minta BAIK-BAIK,
dari pada kami mencopet atau menjambret, Kami hidup dijalanan yang tidak
mengenal pendidikan kakak bunda, tapi kami hidup tidak dengan mencuri.
kami menjual suara kami ya kakak bunda" (sambil mengedarkan tangan, atau
kadang topi, atau apa saja yang bisa menampung uang recehan yang mereka
minta dan harapkan).
huffth...apa yang akan anda lakukan
dengan "peminta2" yang menggunakan bahasa seperti anak-anak barusan" apa
masih tergerak jiwa anda untuk "memberi"? jujur saja, dalam kondisi
penat disore hari setelah lelah bekerja, rasanya malas sekali menanggapi
kata2 mereka, apalagi meminta nya dengan bahasa seperti itu..
dan
sore tadi, saya lagi-lagi memutuskan untuk tidak "memberi",
bukan..bukan karena saya tidak punya "jiwa sosial" seperti yang disebut
anak tersebutt, tapi ada hal lain dan pertimbangan lain yang menjadikan
ssaya untu tidak memberi.
anak-anak itu biasa diebut anak
PUNK JALANAN yang entah sejak tahun berapa mereka bermunculan di kota
ini, yah kota bandung ini, saya juga tidak terlalu mengikuti
perkembangannya, tiba2 saja jenis "pengamen" ini muncul, mereka tidak
sperti pengamen2 yang lain, membawa gitar atau alat musik yang
lain,untuk menjajakan suara emas mereka (yang menurut saya lebih patut
dihargai), mereka hanya bermodal suara apa adanya dan tetu saja sedikit
ungkapan2 yang bernada mengumpat diatas..
ada petimbangan besar
saat saya tidak mau "memberi" selain bahasa mereka yang jauh dari
pendidikan, ada fenomena lain saat saya mendapati anak-anak yang seperti
mereka sedang menjalankan profesi mereka diatas angkot, anak tersebut
pake gadget yang lagi in saat ini di Indoesia, woow itu fantastik sekali
menurut saya.. dan kalau tidak salah mereka ngamen pada jam sekolah,
bisa diartikan mereka tidak sekolah dong yaa... dan yang lebih miris
lagi adalah saya pernah menemukan disebuah terminal di kota bandung,
anak punk sedang ngumpul dan mereka sedang menghisap lem yang
disembunyikan didalam genggaman tangan mereka, sampai mereka terlihat
sempoyongan..
yahh itu sekilas fenomena tentang anak PUNK yang berprofesi sebagai pengamen.
kembali
pada topik,, tentang meminta. siapapun orangnya pasti tidak suka di
minta (lalu) kemudian di umpat oleh orang yang tadi meminta. ini juga
kejadian diangkot beberapa bulan yang lalu, ada anak punk yang seperti
cerita diatas, mengamen dengan intro dan penutup yang bahasanya tidak
jauh berbeda. tapi sayang, hari itu orang-orang diangkot tidak ada
satupun yang memberikan uang padanya. akhirnya anak tersbut mengumpat:
"astagfirulloh, meni pedit2 pisan, harta mah moal dibawa mati atuh,,moal
paeh atuh ngan mere gope2 mah, sok ku aing didoakeun moal bahagia
hirupna jalma nu pedit" setelah berkata seperti itu anak tersebut turun
dari angkot sambil menahan kesal, tiba-tiba seorang bapak yang duduk pas
didepan saya bereriak sambil mengancungkan jari telunjuk ke arah anak
yang sudah turun tersebut. "heii kamuu...jaga ya kata-kata nya, tidak
sopan"
suasana diangkot seketika hening, huuft, akhirnya
ada yang terpicu emosinya.. yaah begitulah kira-kira respon yang akan
diberikan pada sesuatu yang kita sendiri tidak menyuka dan kita merasa
hal tersebuut sungguh menghinakan diri kita.
memang tidak
ada yang salah dari fenomena ini, ini hanya bagian kecil dari cerita
kondisi masyarakat di indonesia, anak-anak tersebut juga tidak bisa
disalahkan sepenuhnya, mereka punya cara sendiri untuk mencari uang demi
memenuhi kebutuhan dasarnya, tapi caranya kurang terdidik, karena dia
sendiri mengakui bahwa mereka tidak berpendidikan.
yang
jadi pikiran saya adalah cara mereka meminta. mereka saja meminta dengan
cara seperti itu, respon kita sudah beragam, dan malah cenderung untuk
mengabaikan permintaan tersbut.. caranya itu lohh..
nahh ini juga
jadi kaitan dalam pikiran saya, bagaimana cara kita meminta kepada
Alloh? apakah kita beeprilaku saa seperti anak punk terseut meminta
(paksa) sambil mengumpat juga?
terkadang saya berpikir
saat saya memiliki impian yang benar2 saya inginkan segera dikabulkan
maka saya memohon dengan sedikit memaksa, mungkn kondisi nya tidak jauh
berbeda dengan anak punk tersebut,, lalu apa pantas doa saya akan
diijabah?memang untuk urusan doa, dikabulkannya segera atau ditunda itu
hak Alloh sepenuhnya, tapi kita tidak boleh berputus asa uuntuk terus
meminta, dan tentunya dengan cara yang baik.. apa jadinya jika konsep
"meminta" nya anak jalanan tersebut kita pakai dalam suasana kita berdoa
kepada Alloh?meminta dengan paksa lalu kemudian mengumpat (atau mungkin
lebih tepatnya suudzon kepada Alloh atas permintaan kita yang tidak
segera dikabulkan).
berkaca dari kisah ini, mari kita
perbaiki cara2 kita, sikap-sikap kita saat berkomunikasi dengan Alloh,
cara-cara kita menyampaikan keinginan kita dengan lembut, tidak memaksa
dan juga tidak berprasangka buruk terhadap Alloh.
bukankah Alloh sesuai prasangka hamba-Nya? dan juga pengabul doa?
“Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar
mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. 2 : 186).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar