Sabtu, 11 Januari 2014

Meminta (Paksa) Sambil Mengumpat ?

Ini ceritaku sore ini, sama seperti hari-hari kemarin fenomena yang akan kuceritakan hari ini mungkin bukan kejadian luar biasa, bahkan sepertinya sudah tidak asing lagi kita jumpai setiap sore menyapa para manusia yang terkantuk-kantuk di dalam angkutan umum (angkot, bus, dsb) menahan lelahnya badan setelah seharian bekerja.

Seperti biasa, setiap saya ada agenda diluar dan harus pulang sore, alternatif angkutan yang saya pilih adalah angkot, memang sih perjalanan menjadi tidak efisien, karena waktu terbuang banyak dijalan, karena angkot yang selalu berhenti entah untuk ngetem ataupun menaikkan dan menurunkan penumpang, tapi hal ini bagi saya adalah seni nya dalam menikmati angkot ^_^
walau sebenarnya sebel juga, perjalanan saya bisa memkan waktu 2 jam hanya di angkot saja..

ahh pembukaan yang terlalu panjang, mari berbicara pada intinya :D
fenomena yang saya singgung diatas adalah sesuai dengan judul tulisan yang saya angkat dalam catatan ini, tentang "meminta". tau dong ya siapa yang suka "minta2" di angkot? walaupun dengan profesi sebagai penyanyi jalanan..:D

sore ini cerita itu terjadi lagi, saat angkot yang saya naiki sudah sampai di bunderan cibiru, bandung timur, naiklah 2 orang anak yang gayanya nyentrik, dengan bau yang khas, satu perempuan yang satu laki-laki. anak perempuan itu saya taksir kira2 usianya 15 tahun dan yang laki-laki juga sama lah sekitar 15 tahun.. sebelum mengawali ritual "meminta" ehh mksudnya "bernyanyi ala kadarnya" mereka seperti sudah punya teks "sambutan" layak nya seorang orator. dan saya juga jadi bingung, ini mau ngamen atau mau pidato.

dan seperti saya bilang, hal in kejadian biasa dan saking seringnya saya menemukan anak-anak macam ini, saya jadi ikut hafal dengan kata2 intro (sambutan) mereka:(intro; pembukaan): "ya permisi kakak, bunda, om, tante, numpang ngamen, numpang berisiknya yaa...kami disini mau cari makan ya, untuk sesuap nasi nya ya kakak bunda, maaf kalau menggganggu perjalanan kakak bunda, cuma bikin berisik ya

(mulai bernyanyi): kemanusiaan telah berkurang, korupsi semakin merajalela, bangkit ah hai orang-orang yang peduli pada nasib bangsa yang semakin tertindas, kejahatan merajalela.... (kurang lebih begitu syair yang mereka nyanyikan. dengan sedikit adaptasi bahasa :D)

(bagian penutup) ya kakak bunda kami tau diballik kerapian KERUDUNG anda masih tersimpan JIWA SOSIAL anda untuk membagi harta anda, seribu dua  ribu tidak akan membuat anda MISKIN, hargai SUARA kami ya kakak bunda. Anda butuh UANG kami juga butuh UANG. Anda bukan PATUNG dan kami juga bukan PATUNG, hargailah, dengan lima ratus rupiah atau seribu dua ribunya, ya kakak bunda, terimakasih ya kakak bunda, kami disini minta BAIK-BAIK, dari pada kami mencopet atau menjambret, Kami hidup dijalanan yang tidak mengenal pendidikan kakak bunda, tapi kami hidup tidak dengan mencuri. kami menjual suara kami ya kakak bunda" (sambil mengedarkan tangan, atau kadang topi, atau apa saja yang bisa menampung uang recehan yang mereka minta dan harapkan).

huffth...apa yang akan anda lakukan dengan "peminta2" yang menggunakan bahasa seperti anak-anak barusan" apa masih tergerak jiwa anda untuk "memberi"? jujur saja, dalam kondisi penat disore hari setelah lelah bekerja, rasanya malas sekali menanggapi kata2 mereka, apalagi meminta nya dengan bahasa seperti itu..

dan sore tadi, saya lagi-lagi memutuskan untuk tidak "memberi", bukan..bukan karena saya tidak punya "jiwa sosial" seperti yang disebut anak tersebutt, tapi ada hal lain dan pertimbangan lain yang menjadikan ssaya untu tidak memberi.

anak-anak itu biasa diebut anak PUNK JALANAN yang entah sejak tahun berapa mereka bermunculan di kota ini, yah kota bandung ini, saya juga tidak terlalu mengikuti perkembangannya, tiba2 saja jenis "pengamen" ini muncul, mereka tidak sperti pengamen2 yang lain, membawa gitar atau alat musik yang lain,untuk menjajakan suara emas mereka (yang menurut saya lebih patut dihargai), mereka hanya bermodal suara apa adanya dan tetu saja sedikit ungkapan2 yang bernada mengumpat diatas..
ada petimbangan besar saat saya tidak mau "memberi" selain bahasa mereka yang jauh dari pendidikan, ada fenomena lain saat saya mendapati anak-anak yang seperti mereka sedang menjalankan profesi mereka diatas angkot, anak tersebut pake gadget yang lagi in saat ini di Indoesia, woow itu fantastik sekali menurut saya.. dan kalau tidak salah mereka ngamen pada jam sekolah, bisa diartikan mereka tidak sekolah dong yaa... dan yang lebih miris lagi adalah saya pernah menemukan disebuah terminal di kota bandung, anak punk sedang ngumpul dan mereka sedang menghisap lem yang disembunyikan didalam genggaman tangan mereka, sampai mereka terlihat sempoyongan..

yahh itu sekilas fenomena tentang anak PUNK yang berprofesi sebagai pengamen.

kembali pada topik,, tentang meminta. siapapun orangnya pasti tidak suka di minta (lalu) kemudian di umpat oleh orang yang tadi meminta. ini juga kejadian diangkot beberapa bulan yang lalu, ada anak punk yang seperti cerita diatas, mengamen dengan intro dan penutup yang bahasanya tidak jauh berbeda. tapi sayang, hari itu orang-orang diangkot tidak ada satupun yang memberikan uang padanya. akhirnya anak tersbut mengumpat: "astagfirulloh, meni pedit2 pisan, harta mah moal dibawa mati atuh,,moal paeh atuh ngan mere gope2 mah, sok ku aing didoakeun moal bahagia hirupna jalma nu pedit" setelah berkata seperti itu anak tersebut turun dari angkot sambil menahan kesal, tiba-tiba seorang bapak yang duduk pas didepan saya bereriak sambil mengancungkan jari telunjuk ke arah anak yang sudah turun tersebut. "heii kamuu...jaga ya kata-kata nya, tidak sopan"

suasana diangkot seketika hening, huuft, akhirnya ada yang terpicu emosinya.. yaah begitulah kira-kira respon yang akan diberikan pada sesuatu yang kita sendiri tidak menyuka dan kita merasa hal tersebuut sungguh menghinakan diri kita.

memang tidak ada yang salah dari fenomena ini, ini hanya bagian kecil dari cerita kondisi masyarakat di indonesia, anak-anak tersebut juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya, mereka punya cara sendiri untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan dasarnya, tapi caranya kurang terdidik, karena dia sendiri mengakui bahwa mereka tidak berpendidikan.

yang jadi pikiran saya adalah cara mereka meminta. mereka saja meminta dengan cara seperti itu, respon kita sudah beragam, dan malah cenderung  untuk mengabaikan permintaan tersbut.. caranya itu lohh..
nahh ini juga jadi kaitan dalam pikiran saya, bagaimana cara kita meminta kepada Alloh? apakah kita beeprilaku saa seperti anak punk terseut meminta (paksa) sambil mengumpat juga?

terkadang saya berpikir saat saya memiliki impian yang benar2 saya inginkan segera dikabulkan maka saya memohon dengan sedikit memaksa, mungkn kondisi nya tidak jauh berbeda dengan anak punk tersebut,, lalu apa pantas doa saya akan diijabah?memang untuk urusan doa, dikabulkannya segera atau ditunda itu hak Alloh sepenuhnya, tapi kita tidak boleh berputus asa uuntuk terus meminta, dan tentunya dengan cara yang baik.. apa jadinya jika konsep "meminta" nya anak jalanan tersebut kita pakai dalam suasana kita berdoa kepada Alloh?meminta dengan paksa lalu kemudian mengumpat (atau mungkin lebih tepatnya suudzon kepada Alloh atas permintaan kita yang tidak segera dikabulkan).

berkaca dari kisah ini, mari kita perbaiki cara2 kita, sikap-sikap kita saat berkomunikasi dengan Alloh, cara-cara kita menyampaikan keinginan kita dengan lembut, tidak memaksa dan juga tidak berprasangka buruk terhadap Alloh.
bukankah Alloh sesuai prasangka hamba-Nya? dan juga pengabul doa?

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. 2 : 186).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar