Rabu, 21 Agustus 2019

GILIRAN


Hidup ini sejatinya hanyalah sebuah pergiliran,pergantian,dan perpindahan posisi.

Pada siang hari, Allah jadikan matahari menempati posisi di langit untuk memberi kehidupan pada seluruh makhluk

Lalu menjelang malam, Allah jadikan bintang2 menempati posisi di langit untuk memberi petunjuk bagi mereka yang mencari

Betapa sempurnanya pergantian ini
Karna pada tiap bergilirnya
Allah jadikan siang untuk manusia dalam mencari kehidupan
Dan malam untuk beristirahat di peraduan munajat diatas sajadah

Lalu mengapa kita masih mengeluh padahal sejatinya di balik gelap dan terang Allah simpan banyak hikmah untuk kita renungi.


Bandung, Juli 2018

LAPANG





















Aku pernah denger penjelasan soal langit biru yang ternyata warna birunya berasal dari pantulan cahaya matahari yang nyinarin lautan

Pas momen pulang kampung kemaren,kebetulan banget dapet jadwal pelayaran nya siang, asik bnget deh buat nikmatin langit cerah, hamparan laut tiada bertepi. 

Pas banget buat tafakur, secara perjalanan laut nya 2 jam, dan sayang banget kalau perjalanannya dilewatin dengan tidur
Dulu awal2 naik kapal, suka mabok laut pasti bawaannya pengen tidur.😰😁



Tafakur lagi dilaut tu emang bikin hati meleleh karena bisa membuang segala rasa kesumpekan didalam hati
Apalagi kalau sedang menghadapi masalah yang tiada habisnya dalam hidup. Iya lah namanya juga hidup..hehe

Kalau udah gini jadi suka pengen teriak
"wahai masalah yang luasnya tiada bertepi, aku masih punya Allah yang berkehendak memberi kekuatan kepadaku utk terus berlayar melewatimu, dan semua ini pasti ada ujungnya. Akan selesai dengan cara Allah"

Kalimat itu kadang cukup efektif memulihkan lagi hati,menguatkan kembali jiwa dalam menghadapi hidup.

Makanya aku suka laut aku juga suka langit karna untuk meyakinkan aku yang memberi lapang itu Allah..

Kadang yang bikin ruwet hati itu bukan masalahnya, tapi penerimaannya. Udah lapang belum hati kita nerima semua ini? Kalau udah mau nerima dengan lapang nanti Allah bantu lapangin lagi tuh hati


Selat Sunda, Juli 2018
*very late post.. :)

CAHAYA

Suatu pagi, Di Bulan Ramadhan 1440 H

Aku mendengar kisah tentang seorang pemuda yang mengalami kebutaan diusia produktif, wasilah nya karna kecelakaan. Sebelumnya beliau dapat melihat, ditahun 2000an setelah kecelakaan tersebut, beliau mengalami kebutaan permanen hingga saat ini. 


Bagaimana perasaan beliau saat itu? Frustrasi, marah, depresi yang dirasakan pada awalnya, tetapi setelah melewati 6 bulan pertama beliau mulai menerima segala ketentuan Allah dengan lapang. 
Sekarang beliau menjadi salah satu penggerak dibidang jasa bersama teman2 tuna netra lainnya. 

Ada satu hal yang beliau utarakan, yang menjadi sentilan buat saya, bahwa mereka tidak mau dikatakan disabilitas tetapi lebih tepat jika disebut difable. Apa bedanya?
Disabilitas terkesan bahwa mereka disability..tidak mampu melakukakan apapun. Sedangkan diffabel adalah different ability yaitu memiliki kemampuan yang berbeda dari orang-orang pada umumnya. Istilah ini memang lebih humanis.

Bagiku, yang masih dapat melihat,kisah ini menjadi sebuah teguran sekaligus hikmah tentang nikmatnya melihat, nikmatnya mengetahui cahaya. 

Siapa yang tahan hidup dalam kegelapan? Tanpa cahaya? Tidak ada..
Sekalipun ia diffable dengan tanpa cahaya, jika ada cahaya dijiwa nya sungguh dia tidak pernah merasa gelap.

Cahaya, sejatinya adalah tujuan manusia. Manusia yang memiliki sisi gelap yang terus bergerak mencari dan mendekati sumber cahaya. 

Betapa berharganya cahaya dalam hidup kita sehingga menjadi sebuah janji dan jaminan dari Allah, Rabb kita, kepada Hamba yang mau selamat. 

"Allah adalah wali(pelindung) dari orang-orang beriman yang membawa mereka dari gelap menuju cahaya.." (Qs.Al-Baqarah:257)

Allah adalah cahaya diatas cahaya, menuntun dan membimbing hamba-Nya untuk menuju keselamatan. Rahmat Allah terbesar bagi orang beriman adalah cahaya petunjuk yang senatiasa bersemayam dihatinya. Jika Allah berkehendak, jika Allah ingin memilih kita untuk diberi cahaya, menjadi lah hamba yang "nurut" dan "patuh" tanpa penolakan, tanpa tapi.

Wallahu'alam


Bandung, 14 mei 2019