SAUDARAIKU...APA YAG MENGHALANGIMU UNTUK BERHIJAB?
deg....itulah
pertama kali yang terasa didada saya saat membaca sebaris kalimat
diatas, yang merupakan judul dari sebuah buku. jantung saya berdesir,
dan saya bisa merasakan aliran darah saya sendiri bergerak turun naik di
katup jantung saya (hahah lebay sekali)
reaksi itu cuma
terjadi beberapa detik, lalu senyum mengembang secara tiba2 tanpa saya
capek2 memerintah otak untuk melakukan aktifitas SENYUM, dan mengalirlah
memori itu, memori saat-saat pertama saya akhirnya memutuskan untuk
berhijab,, cerita yang mungkin bagi semua orang biasa saja, tapi bagi
saya adalah peristiwa ISTIMEWA
hampir 9 tahun berlalu dari
peristiwa itu, peristiwa dimana hati saya bergelut dengan hawa
nafsu...ya pergolakan batin saat saya menyadari bahwa saya sudah WAJIB
berhijab, tetapi saya masih mengabaikan perintah-Nya.
oh
ya sebelumnya nih saya akan sedikit membuka identitas saya..Sedikit saja
(mudah2an tidak menjadikan saya NARSIS ya :D #Looh). Saya ini berasal
dari kampung nan jauaah dimato, :D ditempat tinggal saya dulu,
kehidupannya tidak seperti di kota tmpat tinggal saya sekrang.
Duluu...di kampung saya,,, nafas2 ruhiyah yang saya dapatkan benar-benar
kosong, yah jiwa-jiwa nya tidak terisi sempurna, ilmu agama benar2
hanya sebatas tenggorokan dan sebatas sampai di otak (hanya jadi
pengetahuan), tanpa pengolahan yang matang dan dicerna bagaimana
seharusnya aplikasi dari ilmu agama itu untuk kehidupan nyata..
di
kampung saya, seperti ada penegakan hukum begini: pada sore hari anak2
wajib MENGAJI agama di pesantren, di mesjid, di surau, di mushola
(apapun istilahnya untuk menyebutkan tempat mengaji). kalau tidak mau
berangkat mengaji diancam dengan berbagai hukuman, mulai dari hukuman
pukul (tangan, pantat,dsb) sampai dikejar2 kemanapun perginya si anak,
dan dipaksa pergi mengaji. Saat Remaja aturan baru pun ditegakkan:
Remaja boleh tidak mengaji, boleh tidak ke masjid, ngaji nya cukup saja
saat SD, jika sudah SMP kewajiban nya berubah menadi BELAJAR dan
MENGERJAKAN PR.
ahh...ada2 saja yang membuat hukum seperti
itu..:( tapi sungguh ini nyata terjadi, dan saya adalah salah satu
pelaku dari penerapan hukum ini, kalau diktakan korban, saya bukan
korban karena saya begitu menyukai aturan ini :D tapii dikemudian hari
akhirnya saya menyesali perbuatan saya tersebut..
waktu
terus berlalu, kesempatan mengaji sudah semakin digeser2...tergerusoleh
aktifitas sekolah dan akifias diluar sekolah yang macam2, mulai dari les
bahasa inggris, dan les komputer (karena dikampung saya dulu baru ini
yang ngetren ;D), rasanya LES menarik aripada mengaji. tapii saya mulai
merasa ada yang hilang. rutinaitas mengaji yang saya lalui sejak masuk
SD sampai lulus SD sebenarnya sangat saya rindukan untuk diulangi di
masa remaja say lagi2 perasaan itu lenyap digerus oleh keinginan2 remaja
yang baru MELEK dunia. *alasan
dari SD juga saya sudah
dikenalkan tentang imu berhijab, tapi entah mengapa kok saat itu ada
anggapan begini: masih kecil mah gpp ga pake jilbab, pakai jilbab itu
gak wajib kok, cuma anjuran aja...pernyataan ini benar2 SESAT DAN
MENYESATKAN. Bahkan saat saya SMP tak ada satupun disekolah saya yang
berjilbab, ang lebih membua telinga sakit itu saat ada yang berceloteh:
Mau Pake Jilbab? sekolah di MTs bukan di SMP, atau sekalian aja ke
pesantren...itu lah yang saat itu menjadi penghalang saya untuk
berjilbab,, saat itu saat saya mulai paham Jilbab itu WAJIB,, tapi
lngkungan saya benar2 tidak mendukung..diantara ribuan perempuan yang
ada di sekolah saya duu dari guru dan murid, hanya 1 orang guru yang
berjilbab..namanya Bu Mar,, kebetuln Bu Mar ini masih saudara jauh dari
keluarga saya, beliau lulusan dari Universitas islam di kotaku dulu.
dari Bu Mar lah saya sering mendapatkan pencerahan2 tentang ilmu agama
yang bisa diterapkan dalam kehidupan remaja saya...dan keinginan
berhijab pun semakin KUAT
tapi sayaang....keinginan itu
benar2 hanya sampai batas keinginan, tanpa ada bantuan dari dalam diri
dan dari luar diri saya untuk mulai mengambil LANGKAH untuk
berhijab,,dan niat saya pun tertunda.
tahun berikutnya
saat kenaikan kelas 3, saya memutuskan untuk pindah kekota ini, menurut
cerita yang beredar, kotanya sangat religius. saya gembira sekali,
akhirnya keinginan saya berhjab bisa terlaksana.. singkat cerita, saya
pindah dan masuk ke salah satu SMP negeri yang sebenernya tidak kalah
dengan SMP saya dulu, jauh dari keramaian, dan aga2 terpelosok :D tapi
saya tidak menyesal, malah saya bangga pernah sekolah disana.
apakah
saya lngsung berhijab? ternyata tidak!! saya sungguh malu..malu
semalu-malunyaa... dulu, disekolah saya yang lama, hanya 1 orang sayja
yang berjilbab, sekarang..di sekolh saya yang baru, ribua kepala
berjilbab, hanya segelintir siswi yang tidak berjilbab, termasuk
saya..:(
dulu itu alasanny datang dari ibu saya: udah, tanggung
berjilbab nya nanti aja, kalau sudah lulus SMP. tinggal beberapa bulan
lagi, lagian tanggung kalo hars beli seragam tangan panjang kalau cuma
dipakai beberapa bulan. tegas ibu saya..
sungguh hati saya
menjerit, tapi saya tidak bisa berbuat apa2.. saya malu dengan Alloh,
saya malu dengan guru ngaji saya, karena setiap ngaji, pasti sering
disindir masalah hijab, maslah kewajiban berjilbab..bukan saya tidak
mau, bukan saya tidak paham hukumnya, tapi lagi2 alasan yang tidak
mndukung,,dan bernada pengabaian perintah. apalagi saat itu saya
ditunjuk jadi salah satu tenaga pengajar di mesjid,, semakin malu lah
saya berjilbab hanya ke mesjid saja..:(sampai satu hari saya memutuskan
untuk segera mengakhiri masa TERBUKA aurat nya saya...:) setelah ujian
nasional selesai dan pendaftaran siswa baru ke SMA di buka,. setelah
melalui beberpa pekan kesibukan, di hari PERTAMA MOS saya berjilab!!
yeeeyyyy.....dan saya berjanji tidak akan pernah melepaskan hijab saya
lagi
dari perjalanan tersebut, setelah semakin saya sadar
bahwa kewajiban BERJILBAB sama halnya dengan Kewajiban SHOLAT, jika
dengan sengaja mengabaikan perintah ini, maka sama saja dengan
menyatakan diri bahwa diri ini adalah penentang Alloh :( saya
merenungkan satu hal, tentang alasan2 saya saat susahnya untuk segera
berjilbab... semmua alasan2 itu: tidak didukung oleh lingkungan, belum
punya baju panjang, akhlak saya juga masih amburadul..benar2 memang
hanya menjadi alasan pemanis bibir untuk mengatakan bahwa SAYA MALAS
BERJILBAB, NANTI SAJA..dan saya juga merenungkan bahwa keputusan
berjilbab itu bukan soal hidayah saja, tapi soal MAU melakukan
perintah,,bukan karena terilham oleh siapapun, tapi benar2 KESADARAN
bahwa diri ini adalah HAMBA ALLOH yang diperintahkan untuk menutup
AURAT..
andaikan saja dulu saya masih berkutat dengan alasan2 saya,..sungguh saya bisa pastikan mungkin hari ini saya tidak berhijab.
memang
perjalanan manusia berbeda2 dalam menemukan makna hidupnya.tidak semua
orang bisa disamakan waktu KESADARANNYA untuk TAATI PERINTAH ALLOH..
tapi
bagi saya, bedasarkan pengalaman saya sendiri..Alasan2 yang saya buat
itu lah yang menjadi penghalang saya untuk melakukan perintah-Nya.
alasan2 yang saya buat sendiri yang memberatkan saya untuk melangkah
untuk
saat ini saya semakin sadar, TERLALU banyak MERANGKAI ALASAN, semakin
sulit untuk membuka pintu2 PETUNJUK Alloh, dan semakin jauh dari pintu
Ketaatn..
berhentilah membuat ALasan..sekarang juga...agar tak ada lagi beban dihati dalam menjalankan PERINTAH-Nya...
lalu..saudariku,
alasan apa yang menghalangimu untuk berhijab? bukankah kau tahu...1
helai rambut kita yang terlihat oleh laki2 yang bukan mahram kita = 7000
tahun di neraka..:(,mari kita segerakan ihktiar itu, selagi nyawa masih
diraga, selagi kesempatan untuk TAAT masih terbuka lebar untuk kita,,
sebelum akhirnya nanti ita DIHIJABI oleh orang lain dengan KAIN KAFAN :(
Kamis, 16 Januari 2014
Sabtu, 11 Januari 2014
Meminta (Paksa) Sambil Mengumpat ?
Ini ceritaku sore ini, sama seperti hari-hari kemarin fenomena yang
akan kuceritakan hari ini mungkin bukan kejadian luar biasa, bahkan
sepertinya sudah tidak asing lagi kita jumpai setiap sore menyapa para
manusia yang terkantuk-kantuk di dalam angkutan umum (angkot, bus, dsb)
menahan lelahnya badan setelah seharian bekerja.
Seperti biasa, setiap saya ada agenda diluar dan harus pulang sore, alternatif angkutan yang saya pilih adalah angkot, memang sih perjalanan menjadi tidak efisien, karena waktu terbuang banyak dijalan, karena angkot yang selalu berhenti entah untuk ngetem ataupun menaikkan dan menurunkan penumpang, tapi hal ini bagi saya adalah seni nya dalam menikmati angkot ^_^
walau sebenarnya sebel juga, perjalanan saya bisa memkan waktu 2 jam hanya di angkot saja..
ahh pembukaan yang terlalu panjang, mari berbicara pada intinya :D
fenomena yang saya singgung diatas adalah sesuai dengan judul tulisan yang saya angkat dalam catatan ini, tentang "meminta". tau dong ya siapa yang suka "minta2" di angkot? walaupun dengan profesi sebagai penyanyi jalanan..:D
sore ini cerita itu terjadi lagi, saat angkot yang saya naiki sudah sampai di bunderan cibiru, bandung timur, naiklah 2 orang anak yang gayanya nyentrik, dengan bau yang khas, satu perempuan yang satu laki-laki. anak perempuan itu saya taksir kira2 usianya 15 tahun dan yang laki-laki juga sama lah sekitar 15 tahun.. sebelum mengawali ritual "meminta" ehh mksudnya "bernyanyi ala kadarnya" mereka seperti sudah punya teks "sambutan" layak nya seorang orator. dan saya juga jadi bingung, ini mau ngamen atau mau pidato.
dan seperti saya bilang, hal in kejadian biasa dan saking seringnya saya menemukan anak-anak macam ini, saya jadi ikut hafal dengan kata2 intro (sambutan) mereka:(intro; pembukaan): "ya permisi kakak, bunda, om, tante, numpang ngamen, numpang berisiknya yaa...kami disini mau cari makan ya, untuk sesuap nasi nya ya kakak bunda, maaf kalau menggganggu perjalanan kakak bunda, cuma bikin berisik ya
(mulai bernyanyi): kemanusiaan telah berkurang, korupsi semakin merajalela, bangkit ah hai orang-orang yang peduli pada nasib bangsa yang semakin tertindas, kejahatan merajalela.... (kurang lebih begitu syair yang mereka nyanyikan. dengan sedikit adaptasi bahasa :D)
(bagian penutup) ya kakak bunda kami tau diballik kerapian KERUDUNG anda masih tersimpan JIWA SOSIAL anda untuk membagi harta anda, seribu dua ribu tidak akan membuat anda MISKIN, hargai SUARA kami ya kakak bunda. Anda butuh UANG kami juga butuh UANG. Anda bukan PATUNG dan kami juga bukan PATUNG, hargailah, dengan lima ratus rupiah atau seribu dua ribunya, ya kakak bunda, terimakasih ya kakak bunda, kami disini minta BAIK-BAIK, dari pada kami mencopet atau menjambret, Kami hidup dijalanan yang tidak mengenal pendidikan kakak bunda, tapi kami hidup tidak dengan mencuri. kami menjual suara kami ya kakak bunda" (sambil mengedarkan tangan, atau kadang topi, atau apa saja yang bisa menampung uang recehan yang mereka minta dan harapkan).
huffth...apa yang akan anda lakukan dengan "peminta2" yang menggunakan bahasa seperti anak-anak barusan" apa masih tergerak jiwa anda untuk "memberi"? jujur saja, dalam kondisi penat disore hari setelah lelah bekerja, rasanya malas sekali menanggapi kata2 mereka, apalagi meminta nya dengan bahasa seperti itu..
dan sore tadi, saya lagi-lagi memutuskan untuk tidak "memberi", bukan..bukan karena saya tidak punya "jiwa sosial" seperti yang disebut anak tersebutt, tapi ada hal lain dan pertimbangan lain yang menjadikan ssaya untu tidak memberi.
anak-anak itu biasa diebut anak PUNK JALANAN yang entah sejak tahun berapa mereka bermunculan di kota ini, yah kota bandung ini, saya juga tidak terlalu mengikuti perkembangannya, tiba2 saja jenis "pengamen" ini muncul, mereka tidak sperti pengamen2 yang lain, membawa gitar atau alat musik yang lain,untuk menjajakan suara emas mereka (yang menurut saya lebih patut dihargai), mereka hanya bermodal suara apa adanya dan tetu saja sedikit ungkapan2 yang bernada mengumpat diatas..
ada petimbangan besar saat saya tidak mau "memberi" selain bahasa mereka yang jauh dari pendidikan, ada fenomena lain saat saya mendapati anak-anak yang seperti mereka sedang menjalankan profesi mereka diatas angkot, anak tersebut pake gadget yang lagi in saat ini di Indoesia, woow itu fantastik sekali menurut saya.. dan kalau tidak salah mereka ngamen pada jam sekolah, bisa diartikan mereka tidak sekolah dong yaa... dan yang lebih miris lagi adalah saya pernah menemukan disebuah terminal di kota bandung, anak punk sedang ngumpul dan mereka sedang menghisap lem yang disembunyikan didalam genggaman tangan mereka, sampai mereka terlihat sempoyongan..
yahh itu sekilas fenomena tentang anak PUNK yang berprofesi sebagai pengamen.
kembali pada topik,, tentang meminta. siapapun orangnya pasti tidak suka di minta (lalu) kemudian di umpat oleh orang yang tadi meminta. ini juga kejadian diangkot beberapa bulan yang lalu, ada anak punk yang seperti cerita diatas, mengamen dengan intro dan penutup yang bahasanya tidak jauh berbeda. tapi sayang, hari itu orang-orang diangkot tidak ada satupun yang memberikan uang padanya. akhirnya anak tersbut mengumpat: "astagfirulloh, meni pedit2 pisan, harta mah moal dibawa mati atuh,,moal paeh atuh ngan mere gope2 mah, sok ku aing didoakeun moal bahagia hirupna jalma nu pedit" setelah berkata seperti itu anak tersebut turun dari angkot sambil menahan kesal, tiba-tiba seorang bapak yang duduk pas didepan saya bereriak sambil mengancungkan jari telunjuk ke arah anak yang sudah turun tersebut. "heii kamuu...jaga ya kata-kata nya, tidak sopan"
suasana diangkot seketika hening, huuft, akhirnya ada yang terpicu emosinya.. yaah begitulah kira-kira respon yang akan diberikan pada sesuatu yang kita sendiri tidak menyuka dan kita merasa hal tersebuut sungguh menghinakan diri kita.
memang tidak ada yang salah dari fenomena ini, ini hanya bagian kecil dari cerita kondisi masyarakat di indonesia, anak-anak tersebut juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya, mereka punya cara sendiri untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan dasarnya, tapi caranya kurang terdidik, karena dia sendiri mengakui bahwa mereka tidak berpendidikan.
yang jadi pikiran saya adalah cara mereka meminta. mereka saja meminta dengan cara seperti itu, respon kita sudah beragam, dan malah cenderung untuk mengabaikan permintaan tersbut.. caranya itu lohh..
nahh ini juga jadi kaitan dalam pikiran saya, bagaimana cara kita meminta kepada Alloh? apakah kita beeprilaku saa seperti anak punk terseut meminta (paksa) sambil mengumpat juga?
terkadang saya berpikir saat saya memiliki impian yang benar2 saya inginkan segera dikabulkan maka saya memohon dengan sedikit memaksa, mungkn kondisi nya tidak jauh berbeda dengan anak punk tersebut,, lalu apa pantas doa saya akan diijabah?memang untuk urusan doa, dikabulkannya segera atau ditunda itu hak Alloh sepenuhnya, tapi kita tidak boleh berputus asa uuntuk terus meminta, dan tentunya dengan cara yang baik.. apa jadinya jika konsep "meminta" nya anak jalanan tersebut kita pakai dalam suasana kita berdoa kepada Alloh?meminta dengan paksa lalu kemudian mengumpat (atau mungkin lebih tepatnya suudzon kepada Alloh atas permintaan kita yang tidak segera dikabulkan).
berkaca dari kisah ini, mari kita perbaiki cara2 kita, sikap-sikap kita saat berkomunikasi dengan Alloh, cara-cara kita menyampaikan keinginan kita dengan lembut, tidak memaksa dan juga tidak berprasangka buruk terhadap Alloh.
bukankah Alloh sesuai prasangka hamba-Nya? dan juga pengabul doa?
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. 2 : 186).
Seperti biasa, setiap saya ada agenda diluar dan harus pulang sore, alternatif angkutan yang saya pilih adalah angkot, memang sih perjalanan menjadi tidak efisien, karena waktu terbuang banyak dijalan, karena angkot yang selalu berhenti entah untuk ngetem ataupun menaikkan dan menurunkan penumpang, tapi hal ini bagi saya adalah seni nya dalam menikmati angkot ^_^
walau sebenarnya sebel juga, perjalanan saya bisa memkan waktu 2 jam hanya di angkot saja..
ahh pembukaan yang terlalu panjang, mari berbicara pada intinya :D
fenomena yang saya singgung diatas adalah sesuai dengan judul tulisan yang saya angkat dalam catatan ini, tentang "meminta". tau dong ya siapa yang suka "minta2" di angkot? walaupun dengan profesi sebagai penyanyi jalanan..:D
sore ini cerita itu terjadi lagi, saat angkot yang saya naiki sudah sampai di bunderan cibiru, bandung timur, naiklah 2 orang anak yang gayanya nyentrik, dengan bau yang khas, satu perempuan yang satu laki-laki. anak perempuan itu saya taksir kira2 usianya 15 tahun dan yang laki-laki juga sama lah sekitar 15 tahun.. sebelum mengawali ritual "meminta" ehh mksudnya "bernyanyi ala kadarnya" mereka seperti sudah punya teks "sambutan" layak nya seorang orator. dan saya juga jadi bingung, ini mau ngamen atau mau pidato.
dan seperti saya bilang, hal in kejadian biasa dan saking seringnya saya menemukan anak-anak macam ini, saya jadi ikut hafal dengan kata2 intro (sambutan) mereka:(intro; pembukaan): "ya permisi kakak, bunda, om, tante, numpang ngamen, numpang berisiknya yaa...kami disini mau cari makan ya, untuk sesuap nasi nya ya kakak bunda, maaf kalau menggganggu perjalanan kakak bunda, cuma bikin berisik ya
(mulai bernyanyi): kemanusiaan telah berkurang, korupsi semakin merajalela, bangkit ah hai orang-orang yang peduli pada nasib bangsa yang semakin tertindas, kejahatan merajalela.... (kurang lebih begitu syair yang mereka nyanyikan. dengan sedikit adaptasi bahasa :D)
(bagian penutup) ya kakak bunda kami tau diballik kerapian KERUDUNG anda masih tersimpan JIWA SOSIAL anda untuk membagi harta anda, seribu dua ribu tidak akan membuat anda MISKIN, hargai SUARA kami ya kakak bunda. Anda butuh UANG kami juga butuh UANG. Anda bukan PATUNG dan kami juga bukan PATUNG, hargailah, dengan lima ratus rupiah atau seribu dua ribunya, ya kakak bunda, terimakasih ya kakak bunda, kami disini minta BAIK-BAIK, dari pada kami mencopet atau menjambret, Kami hidup dijalanan yang tidak mengenal pendidikan kakak bunda, tapi kami hidup tidak dengan mencuri. kami menjual suara kami ya kakak bunda" (sambil mengedarkan tangan, atau kadang topi, atau apa saja yang bisa menampung uang recehan yang mereka minta dan harapkan).
huffth...apa yang akan anda lakukan dengan "peminta2" yang menggunakan bahasa seperti anak-anak barusan" apa masih tergerak jiwa anda untuk "memberi"? jujur saja, dalam kondisi penat disore hari setelah lelah bekerja, rasanya malas sekali menanggapi kata2 mereka, apalagi meminta nya dengan bahasa seperti itu..
dan sore tadi, saya lagi-lagi memutuskan untuk tidak "memberi", bukan..bukan karena saya tidak punya "jiwa sosial" seperti yang disebut anak tersebutt, tapi ada hal lain dan pertimbangan lain yang menjadikan ssaya untu tidak memberi.
anak-anak itu biasa diebut anak PUNK JALANAN yang entah sejak tahun berapa mereka bermunculan di kota ini, yah kota bandung ini, saya juga tidak terlalu mengikuti perkembangannya, tiba2 saja jenis "pengamen" ini muncul, mereka tidak sperti pengamen2 yang lain, membawa gitar atau alat musik yang lain,untuk menjajakan suara emas mereka (yang menurut saya lebih patut dihargai), mereka hanya bermodal suara apa adanya dan tetu saja sedikit ungkapan2 yang bernada mengumpat diatas..
ada petimbangan besar saat saya tidak mau "memberi" selain bahasa mereka yang jauh dari pendidikan, ada fenomena lain saat saya mendapati anak-anak yang seperti mereka sedang menjalankan profesi mereka diatas angkot, anak tersebut pake gadget yang lagi in saat ini di Indoesia, woow itu fantastik sekali menurut saya.. dan kalau tidak salah mereka ngamen pada jam sekolah, bisa diartikan mereka tidak sekolah dong yaa... dan yang lebih miris lagi adalah saya pernah menemukan disebuah terminal di kota bandung, anak punk sedang ngumpul dan mereka sedang menghisap lem yang disembunyikan didalam genggaman tangan mereka, sampai mereka terlihat sempoyongan..
yahh itu sekilas fenomena tentang anak PUNK yang berprofesi sebagai pengamen.
kembali pada topik,, tentang meminta. siapapun orangnya pasti tidak suka di minta (lalu) kemudian di umpat oleh orang yang tadi meminta. ini juga kejadian diangkot beberapa bulan yang lalu, ada anak punk yang seperti cerita diatas, mengamen dengan intro dan penutup yang bahasanya tidak jauh berbeda. tapi sayang, hari itu orang-orang diangkot tidak ada satupun yang memberikan uang padanya. akhirnya anak tersbut mengumpat: "astagfirulloh, meni pedit2 pisan, harta mah moal dibawa mati atuh,,moal paeh atuh ngan mere gope2 mah, sok ku aing didoakeun moal bahagia hirupna jalma nu pedit" setelah berkata seperti itu anak tersebut turun dari angkot sambil menahan kesal, tiba-tiba seorang bapak yang duduk pas didepan saya bereriak sambil mengancungkan jari telunjuk ke arah anak yang sudah turun tersebut. "heii kamuu...jaga ya kata-kata nya, tidak sopan"
suasana diangkot seketika hening, huuft, akhirnya ada yang terpicu emosinya.. yaah begitulah kira-kira respon yang akan diberikan pada sesuatu yang kita sendiri tidak menyuka dan kita merasa hal tersebuut sungguh menghinakan diri kita.
memang tidak ada yang salah dari fenomena ini, ini hanya bagian kecil dari cerita kondisi masyarakat di indonesia, anak-anak tersebut juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya, mereka punya cara sendiri untuk mencari uang demi memenuhi kebutuhan dasarnya, tapi caranya kurang terdidik, karena dia sendiri mengakui bahwa mereka tidak berpendidikan.
yang jadi pikiran saya adalah cara mereka meminta. mereka saja meminta dengan cara seperti itu, respon kita sudah beragam, dan malah cenderung untuk mengabaikan permintaan tersbut.. caranya itu lohh..
nahh ini juga jadi kaitan dalam pikiran saya, bagaimana cara kita meminta kepada Alloh? apakah kita beeprilaku saa seperti anak punk terseut meminta (paksa) sambil mengumpat juga?
terkadang saya berpikir saat saya memiliki impian yang benar2 saya inginkan segera dikabulkan maka saya memohon dengan sedikit memaksa, mungkn kondisi nya tidak jauh berbeda dengan anak punk tersebut,, lalu apa pantas doa saya akan diijabah?memang untuk urusan doa, dikabulkannya segera atau ditunda itu hak Alloh sepenuhnya, tapi kita tidak boleh berputus asa uuntuk terus meminta, dan tentunya dengan cara yang baik.. apa jadinya jika konsep "meminta" nya anak jalanan tersebut kita pakai dalam suasana kita berdoa kepada Alloh?meminta dengan paksa lalu kemudian mengumpat (atau mungkin lebih tepatnya suudzon kepada Alloh atas permintaan kita yang tidak segera dikabulkan).
berkaca dari kisah ini, mari kita perbaiki cara2 kita, sikap-sikap kita saat berkomunikasi dengan Alloh, cara-cara kita menyampaikan keinginan kita dengan lembut, tidak memaksa dan juga tidak berprasangka buruk terhadap Alloh.
bukankah Alloh sesuai prasangka hamba-Nya? dan juga pengabul doa?
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. 2 : 186).
Langganan:
Postingan (Atom)